LONGKI KEMAJUAN SULTENG

LONGKI KEMAJUAN SULTENG

KEAMANAN TERJAMIN

KEAMANAN TERJAMIN
Pilih No.Urut "3" Gubernur Sulteng

KAMPANYE LONGKI & SUDARTO

KAMPANYE LONGKI & SUDARTO
CAGUB SULTENG 2011-2016

For Executif Sulteng

For Executif Sulteng

Kamis, 23 Desember 2010

Genderang Nasionalisme

Menabuh Genderang Nasionalisme Bola
Jumat, 17 Desember 2010 | 05:02 WIB
KOMPAS/AMIR SODIKIN
Penonton menunjukkan tiket yang berhasil ia dapat. Mereka rela antre untuk mendapatkan tiket nonton sepak bola Indonesia melawan Filipina pada Kamis (16/12) di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Genderang ”perang” telah ditabuh para suporter sepak bola di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (16/12) siang. Padahal, pertandingan Indonesia melawan Filipina di Piala AFF 2010 ini berlangsung malam hari, pukul 19.30.
Stadion sudah mulai disesaki manusia sejak Kamis siang. Selain keperluan untuk menukarkan kuitansi dengan tiket resmi, sebagian lagi sudah datang dari berbagai daerah. Mereka siap menonton.
Jalanan juga disesaki para pedagang yang menjajakan berbagai atribut suporter, mulai dari kaus, jaket, bendera sungguhan ataupun bendera berupa stiker, terompet, hingga syal.
Walau suasananya hiruk-pikuk, semua orang yang berada di sekitar stadion merasa aman. Tak seperti ketika klub mereka akan main, yang biasanya dihantui kekhawatiran jika dua kubu pendukung tim kesebelasan bertemu.
”Saya sudah mulai antre tiket sejak hari Senin lalu. Waktu itu belum begitu ramai. Saya tahu bakalan ramai karena teman-teman banyak yang membicarakannya kalau mereka tertarik nonton,” kata Rizki Fajri (19), suporter asal Palembang yang ditemui seusai penukaran kuitansi dengan tiket resmi.
Bagi Rizki, bagus atau tidak permainan tim Indonesia, dia akan tetap menonton Indonesia bermain. ”Sejak kecil saya memang suka bola,” katanya.
Gilang Permana (16) asal Riau juga mengaku tak terpengaruh apakah Indonesia bermain bagus atau tidak. ”Yang penting mendukung tim Merah Putih, itu yang utama. Tetapi, memang tahun ini tim Indonesia mainnya bagus,” katanya.
Agus Wiyono (23) dan Siswanto (20) jauh-jauh datang dari Solo khusus untuk mendukung kesebelasan Indonesia. ”Harus bangga dong, siapa lagi kalau bukan kita yang mendukung Merah Putih,” kata Siswanto, yang mencoreng mukanya dengan cat merah putih.
Mereka telah ikut antre sejak Rabu pagi. ”Antre jam 09.00 pagi baru dapat jam 14.00, beruntung kami masih bisa dapat tiket, teman-teman lain sudah tidak dapat,” kata Agus.
Mereka selain rela antre tiket juga harus berjibaku naik kereta api ekonomi dari Solo. ”Kalah atau menang tak masalah, yang lebih penting bagaimana kita ikut mendukung Indonesia,” kata Siswanto, yang jiwa nasionalismenya dia akui bergolak ketika mendukung tim nasional melawan negara lain.
Hero anak muda
Dari dampak itu, akhirnya mereka yang tak suka bola tiba-tiba membicarakan pertandingan AFF dan banyak yang ikut antre membeli tiket. ”Kami punya idola baru, ada deh...,” begitu kata cewek-cewek di antrean loket penukaran tiket.
Idolanya siapa sih? Irfan Bachdim? Maka, rombongan para cewek itu pun hanya tersipu-sipu malu.
Banyak orang yang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola, baik penggemar maupun bukan. Dinda Ahlul Latifah mengungkapkan keinginannya untuk bisa menonton tim Merah Putih bertanding kali ini.
”Aku pengin banget nonton langsung di Senayan. Alasannya, karena prestasi tim nasional kita lagi bagus. Selain itu, juga karena faktor ada Irfan Bachdim dan Gonzales yang bikin penonton tertarik,” kata Dinda lewat Facebook Kompas MuDA.
Berbeda dengan para cewek, para cowok punya pendapat lain. ”Saya tidak punya idola atau hero baru. Bagi saya, hero saya, ya, tetap Bambang Pamungkas,” kata Siswanto.
Mereka berdua mengaku tak punya hero di luar lapangan sepak bola. ”Kalau di dunia politik, saya enggak punya. Tetapi, kalau di dunia musik, saya baru punya hero, Iwan Fals,” kata Siswanto.
Baginya, dunia bola jika dikelola dengan baik bisa mewujudkan persaudaraan dan sikap egaliter antarsesama. Baru sehari sampai di Jakarta, Agus dan Siswanto sudah bertukar cendera mata dengan suporter sepak bola lain.
”Kami pendukung Persis Solo. Ini gelang karet saya sudah ditukar dengan gelang suporter Persija. Syal juga sudah saya tukar dengan syal suporter Arema Malang,” kata Siswanto.
Kali ini para suporter memang bersatu. ”Dalam situasi seperti ini, kami dari daerah melebur menjadi satu. Tak peduli asalnya, yang penting untuk Indonesia,” tutur Agus.
Bagi Siswanto, perjalanan dari Solo ke Jakarta tak sekadar persoalan melihat timnya menang atau kalah, tetapi juga bagaimana bisa mendapatkan pengalaman bertemu dengan suporter lain. ”Damai pokoknya, tak ada yang perlu diributkan kalau sudah mendukung tim Indonesia,” katanya.
Jika Indonesia akan kalah melawan Filipina, apakah masih mau menonton Indonesia di Piala AFF? ”Tetap akan kami luangkan waktu untuk mendukung tim Indonesia,” kata Agus.
Rizki Fajri dari Palembang merasa tak punya hero di luar lapangan sepak bola. Baginya, hero dalam hidup adalah pemain sepak bola Firman Utina.
Di luar sepak bola masak tidak punya hero? Misal Pak SBY atau Pak Habibie? ”Hmm enggak punya. Saya memang cinta sepak bola. Bagi saya, bola itu bisa menaikkan atau menurunkan mood. Hero saya, ya, tokoh-tokoh top sepak bola,” kata Rizki.
Oleh karena itu, jika tim Indonesia sampai kalah, Rizki juga Gilang tak menyangkal kalau dirinya bakal kecewa berat. Berhari-hari bisa murung dan mood turun drastis, suka ngedumel sendiri karena tim kebanggaannya kalah.
”Ya, tak sampai stres beratlah, tetapi pasti kami bakal kecewa,” kata Gilang. Bagi orang-orang seperti Gilang dan Rizki, sepak bola memiliki dunianya sendiri.
Memikirkan dunia di luar sepak bola bagi mereka terlalu membosankan karena dari persoalan politik, hukum, dan ekonomi selalu itu-itu saja. Saat nasionalisme sepak bola sedang naik, inilah saat tepat untuk membangun sepak bola Indonesia yang diharapkan melahirkan kebanggaan baru.
”Kalah atau menang tak jadi soal walau memang saya kecewa. Yang terpenting bagaimana kita tetap mendukung Indonesia. Walau nanti kalah, saya tetap akan nonton pertandingan tanggal 19 nanti, harus itu,” kata Rizki.
Dari sekitar Stadion Gelora Bung Karno, tampak jelas bahwa persoalan si kulit bundar ini bukan sekadar permainan kalah-menang. Di dalamnya ada harapan bagi perbaikan nasionalisme, pertumbuhan ekonomi, dan persahabatan. Genderang harapan itu telah ditabuh! (Amir Sodikin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar