LONGKI KEMAJUAN SULTENG

LONGKI KEMAJUAN SULTENG

KEAMANAN TERJAMIN

KEAMANAN TERJAMIN
Pilih No.Urut "3" Gubernur Sulteng

KAMPANYE LONGKI & SUDARTO

KAMPANYE LONGKI & SUDARTO
CAGUB SULTENG 2011-2016

For Executif Sulteng

For Executif Sulteng

Sabtu, 29 Januari 2011

Para Politisi Menikmati Kondisi Rutan

Para Politisi Menikmati Kondisi Rutan
Penulis: Maria Natalia | Editor: Asep Candra
Sabtu, 29 Januari 2011 | 19:28 WIB
Dibaca: 409
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANAMenteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar
JAKARTA, KOMPAS.com - Menkumham Patrialis Akbar menyatakan, meski kondisi rutan Salemba memprihatinkan, tidak ada perlakuan khusus terhadap para politisi yang ditahan di lembaga pemasyarakatan tersebut.
Patrialis mendatangi Rutan Salemba sekitar pukul 16.10 WIB. Ia datang ke tempat tersebut dengan alasan untuk agenda keliling memeriksa rutan-rutan. Namun, Patrialis juga bertemu dengan enam tersangka kasus dugaan suap Deputi Gubernus Senior (DGS) BI  di antaranya, Reza Kamarullah, TM Nurlif, Baharuddin Aritonang, Soewarno, Asep Ruchimat Sudjana dan Panda Nababan di lantai dua rutan di tempat khusus tahanan tipikor.
Menurut Patrialis kondisi rutan Salemba saat ini masih memprihatinkan karena melebihi kapasitas. Rutan Salemba harusnya menampung sekitar 900 napi, tapi saat ini dihuni sekitar 2.800 orang. Ukuran setiap kamar penjara hanya untuk satu orang, ada yang dilengkapi fasilitas toilet dan tidak.
Patrialis menegaskan meski kondisi tahanan memprihatinkan, tetapi tidak ada perlakuan khusus pada para tahanan dari kalangan politisi ini.
"Ukuran kamarnya satu setengah kali dua setengah, pas untuk satu orang memang kecil ya. Tapi tidak ada perbedaan, semua tahanan sama saja. Tidak ada kamar berAC, tapi semua kamar disini pakai kipas angin. Itu juga pentinglah kita juga masih manusiawi, meskipun kayak begini rutannya," kata Patrialis.
Para tersangka DGS-BI, kata Patrialis, juga tampak cukup menikmati suasana di rutan. "Mereka sehat-sehat saja dan menikmati. Ya meskipun ini rutannya memprihatinkan jumlahnya sudah melebihi kapasitas. Tadi Panda saya datang lagi tidur nyenyak," jelas Patrialis.
Sementara itu, menurut anggota Komisi -III DPR-RI, Ahmad Yani, saat ini telah dibuat tahanan khusus koruptor. Berkapasitas 300 orang, tapi baru terisi 68 orang. Nantinya akan berkoordinasi dengan KPK agar para tahanan ini bisa pindah ke rutan khusus koruptor.
"Ya itu kapasitasnya 300 orang, tapi baru 68 orang. Nanti kami koordinasi dengan orang KPK biar bisa dipindahkan para tahanan ini," jelas Ahmad Yani.
Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Rabu Depan, Gayus "Disidang" di DPR

KASUS GAYUS
Rabu Depan, Gayus "Disidang" di DPR
Penulis: Caroline Damanik | Editor: Latief
Sabtu, 29 Januari 2011 | 17:31 WIB
Dibaca: 1204

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Sesuai jadwal kerja Panja yang diperoleh Kompas.com, Gayus dan kuasa hukumnya memang dijadwalkan diundang ke DPR RI, Rabu (2/2/2011), sebagai tahap awal pekerjaan Panja.

TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Jika tak ada aral melintang, terpidana kasus penyuapan dan tersangka tindak pidana korupsi Gayus HP Tambunan akan dimintai keterangannya oleh Panja Mafia Hukum dan Mafia Perpajakan DPR RI, Rabu (2/2/2011) mendatang.
Ketua Panja Tjatur Sapto Edi mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan koordinasi dengan pihak pengadilan dan kepolisian untuk mendatangkan Gayus ke gedung dewan.
"Rabu sore rencananya sama Gayus. Lagi dijajaki dengan Kemenhuk dan HAM, serta polisi. Gayus Tambunan kan lagi diperiksa secara intensif. Jadi, jadwal harus disinkronkan," katanya kepadaKompas.com, Sabtu (29/1/2011).
Sesuai jadwal kerja Panja yang diperolehKompas.com, Gayus dan kuasa hukumnya memang dijadwalkan akan diundang ke DPR RI pada Rabu (2/2/2011) nanti sebagai tahap awal pekerjaan Panja. Namun, sejak Senin (24/1/2011) lalu, Panja sudah memulai kerjanya bersamaan dengan rapat kerja Komisi III DPR RI yang dilakukan bersama Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, beserta jajarannya masing-masing.
Dalam rapat kerja tersebut, kasus Gayus menjadi fokus, baik terkait kasus suap, tindak pidana korupsinya, maupun kasus keluarnya Gayus dari rumah tahanan dan kepergiannya ke luar negeri. Pekan depan, Panja juga akan memulai dengan menggali informasi melalui rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Panja berharap memperoleh informasi terkait kasus Gayus Tambunan dan proses penindakannya serta pelaksanaan koordinasi dan supervisi dengan penegak hukum lainnya. Sehari setelahnya, dijadwalkan Kabareskrim Komjen  Ito Sumardi yang akan diundang untuk hadir.
Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Turis China Minati Wisata Nostalgia

Turis China Minati Wisata Nostalgia
Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F | Editor: I Made Asdhiana
Jumat, 28 Januari 2011 | 16:51 WIB
Dibaca: 2209
KOMPAS/HERU SRI KUMOROPengunjung kawasan pebelanjaan di Nanjin Road, Shanghai, China, menggunakan payung saat hujan mengguyur kota tersebut, Minggu (24/10/2010).
JAKARTA, KOMPAS.com - Wisman asal China mulai banyak yang berkunjung ke Indonesia. Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Sapta Nirwandar mengungkapkan bahwa negara China memang tengah berkembang menjadi pasar baru di bidang pariwisata Indonesia.
Ia mengungkapkan hal tersebut dalam peluncuran buku "Kelenteng-Kelenteng Kuno di Indonesia" di Balairung Gedung Sapta Pesona Kemenbudpar, Jakarta, Kamis (27/1/2011). Wisatawan asal China sebagian besar adalah generasi baru yang mendapatkan kisah-kisah mengenai Indonesia dari orang tua mereka. Generasi tua ini banyak yang pernah hidup di Indonesia di awal kemerdekaan Indonesia.
"Trennya banyak orang muda yang mau datang ke Indonesia lagi," kata Sapta. Pihaknya sejak dua tahun lalu sudah membuat paket wisata nostalgia untuk menjaring wisatawan asal China ini.
"Kita menjual paket-paket ke Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Kalimantan Barat," tambahnya.
Sebagian besar wisatawan tersebut memang tertarik dengan paket nostalgia. Dalam paket tersebut, turis akan menikmati wisata budaya dan napak tilas kehidupan generasi tua mereka di Indonesia.
"Tapi ada juga yang datang untuk sekedar jalan-jalan," ungkapnya. Ia menuturkan destinasi-destinasi wisata yang laku di kalangan wisman asal China adalah Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Semarang.
Asti Kleinsteuber penulis buku "Kelenteng-Kelenteng Kuno di Indonesia" juga seorang pemerhati budaya peninggalan. Sebelumnya ia telah membuat buku mengenai istana-istana yang ada di Indonesia. Kali ini, Asti membuat buku yang menceritakan kelenteng-kelenteng kuno yang tersebar di Indonesia. Dalam buku tersebut, ia menceritakan detail mengenai kisah dan sejarah setiap kelenteng.
Ia pun juga memperkaya isi buku dengan paparan tradisi dan budaya China. Tak luput pula, aspek sosial kehidupan masyarakat sekitar kelenteng. Sapta menuturkan buku tersebut dapat membantu mempromosikan pariwisata terutama wisata budaya.

Dewi Lokal di Kelenteng Kuno

Dewi Lokal di Kelenteng Kuno
Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F | Editor: I Made Asdhiana
Sabtu, 29 Januari 2011 | 15:15 WIB
Dibaca: 1248
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESAsti Kleinsteuber berpose dalam peluncuran Buku Kelenteng-Kelenteng Kuno di Indonesia karangannya di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Budaya dan Pariwisata, Jakarta, Kamis (27/1/2011). Buku yang menampilkan foto serta pemaparan mengenai lebih dari seratus Kelenteng kuno di Indonesia ini disusun selama dua tahun.
JAKARTA, KOMPAS.com — Asti Kleinsteuber, seorang penulis dan pemerhati budaya peninggalan, menceritakan pengalamannya saat menyusun bukuKelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia. Ia menyusun buku setebal 420 halaman berisi lebih dari 100 kelenteng kuno yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dalam waktu dua tahun lebih. Proses penyusunan sejarah kelenteng kuno sebagian besar diambil dari cerita legenda yang diwariskan turun-temurun secara lisan. Sementara sejarah secara tertulis sangat minim.
"Sering juga dapat cerita yang berbeda-beda dari tiap-tiap narasumber," ungkapnya kepadaKompas.com, Jumat (28/1/2011). Ia berharap tiap kelenteng nantinya memiliki perpustakaan walaupun kecil.
"Seperti di Jerman, gereja pasti punya ruangan walau kecil yang isinya ada Alkitab dan buku-buku sejarah tentang gereja itu," tuturnya.
Di beberapa kelenteng ia bisa mendapatkan dua sampai tiga cerita yang berbeda. Pada akhirnya ia pun menuliskan semua cerita tersebut. Misalnya seperti kelenteng di Kerawang yang menghormati Dewi Ma Ku Po. Di tempat ini, Asti mendapatkan dua cerita yang berbeda.
Versi pertama menyebutkan, Ma Ku Po merupakan seorang nenek dan leluhur beberapa marga Tionghoa yang menetap di Indonesia. Mereka membawa abu Ma Ku Po dan menempatkannya di sana.
Sementara versi lain menyebutkan, Ma Ku Po adalah seorang anak bernama Ku Po. Asti menuturkan, di beberapa kelenteng dapat ditemui dewa dan dewi lokal. Dewa-dewa lokal ini adalah orang yang telah berjasa kepada masyarakat dan kemudian sosok tersebut menjadi legenda.
Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar dalam acara peluncuran buku tersebut menyebutkan, buku karya Asti dapat membantu promosi pariwisata. Orang akan tertarik untuk mengunjungi kelenteng-kelenteng tersebut. Asti berharap pemerintah dapat lebih memerhatikan kelestarian sejarah dan budaya kelenteng.

Dewi Lokal di Kelenteng Kuno

Dewi Lokal di Kelenteng Kuno
Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F | Editor: I Made Asdhiana
Sabtu, 29 Januari 2011 | 15:15 WIB
Dibaca: 1248
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESAsti Kleinsteuber berpose dalam peluncuran Buku Kelenteng-Kelenteng Kuno di Indonesia karangannya di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Budaya dan Pariwisata, Jakarta, Kamis (27/1/2011). Buku yang menampilkan foto serta pemaparan mengenai lebih dari seratus Kelenteng kuno di Indonesia ini disusun selama dua tahun.
JAKARTA, KOMPAS.com — Asti Kleinsteuber, seorang penulis dan pemerhati budaya peninggalan, menceritakan pengalamannya saat menyusun bukuKelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia. Ia menyusun buku setebal 420 halaman berisi lebih dari 100 kelenteng kuno yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dalam waktu dua tahun lebih. Proses penyusunan sejarah kelenteng kuno sebagian besar diambil dari cerita legenda yang diwariskan turun-temurun secara lisan. Sementara sejarah secara tertulis sangat minim.
"Sering juga dapat cerita yang berbeda-beda dari tiap-tiap narasumber," ungkapnya kepadaKompas.com, Jumat (28/1/2011). Ia berharap tiap kelenteng nantinya memiliki perpustakaan walaupun kecil.
"Seperti di Jerman, gereja pasti punya ruangan walau kecil yang isinya ada Alkitab dan buku-buku sejarah tentang gereja itu," tuturnya.
Di beberapa kelenteng ia bisa mendapatkan dua sampai tiga cerita yang berbeda. Pada akhirnya ia pun menuliskan semua cerita tersebut. Misalnya seperti kelenteng di Kerawang yang menghormati Dewi Ma Ku Po. Di tempat ini, Asti mendapatkan dua cerita yang berbeda.
Versi pertama menyebutkan, Ma Ku Po merupakan seorang nenek dan leluhur beberapa marga Tionghoa yang menetap di Indonesia. Mereka membawa abu Ma Ku Po dan menempatkannya di sana.
Sementara versi lain menyebutkan, Ma Ku Po adalah seorang anak bernama Ku Po. Asti menuturkan, di beberapa kelenteng dapat ditemui dewa dan dewi lokal. Dewa-dewa lokal ini adalah orang yang telah berjasa kepada masyarakat dan kemudian sosok tersebut menjadi legenda.
Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar dalam acara peluncuran buku tersebut menyebutkan, buku karya Asti dapat membantu promosi pariwisata. Orang akan tertarik untuk mengunjungi kelenteng-kelenteng tersebut. Asti berharap pemerintah dapat lebih memerhatikan kelestarian sejarah dan budaya kelenteng.